Powered By Blogger

Hanya ingin mengingat


                Hanya ingin mengingat- ingat nostalgia bersamamu menjelang kepergianmu
                Pertama kali berpapasan langsung saat kamu membantuku memasang bola lampu di rumah ku. Suasana terasa begitu hening karena tak ada yang berani membuka pembicaraan saat kamu dan aku saling menatap dari sudut ke sudut. Suasana mencair saat kita bercerita tentang perkuliahan, rencana hidup dalam lima tahun kedepan. Aku tercengang kagum saat mendengar semua rencana hidupmu untuk menghidupi dirimu dan seluruh keluargamu. Aku tak habis fikir, mengapa anak seusia kamu sudah berfikir sejauh itu? Sudah memikirkan tanggung jawabmu sebagai seorang kepala keluarga. Aku mulai memperhatikanmu, menjadikanmu sebagai panutan hidupku dan berharap kau akan menuntun hidupku esok.
                Keesokkan malamnya saat hujan dera kamu terjebak di luar rumah, sms mu masuk dengan isi berharap meminjam handuk kepada kami. Bukan bermaksud untuk mengabaikanmu tapi memang malam itu kami sedang sibuk mengurus keperluan keluarga baru kami untuk persiapan ospek. Keesokan paginya aku ngotot meminta pada temanku untuk mengucapkan terimakasih padamu karena sudah begitu banyak membantu kami.
                Aku memberanikan diri untuk menyapamu lebih dulu. Kamu pun memberikan respon yang sangat baik. Aku semakin mengagumimu dan semakin ingin tau lebih banyak tentangmu.
                Pertemuan kita pun menjadi hal yang paling aku tunggu,pertemuan pertama yang sudah lebih berarti dibanding pertemuan- pertemuan sebelumnya adalah saat aku berjalan dari arah kampus menuju rumah dan sebaliknya. Tapi kamu tak menyapaku. Ya itu wajar karena kamu fokus dengan jalan saat mengendarai motormu itu. Sorenya giliranku yang tak menyapamu karena aku benar- benra tak melihatmu di simpang jalan depan rumahmu itu. Aku terlalu terburu- buru untuk menyelesaikan tugasku.
                Keesokkan harinya pertemuan kita sudah sedikit lebih baik, kita berangkat beriringan kekampus. Tapi kita tak berani saling menyapa. Kamu malah menurunkan kecepatan motormu agar bisa berjalan di belakangku. Kita masih belum berani mengucapkan seuntai kata untuk saling menyapa.
                Hari ini kita mempunyai jadwal kuliah yang sama. Tapi seperti biasa aku berangkat 15 menit sebelum masuk sementara kamu hanya dalam selang waktu beberapa menit sebelum kuliah. Mungkin karena sudah gari stakdir dari yang di atas. Aku meninggalkan berkas- berkas penting untuk kuliah dan memaksaku untuk menjemputnya  kerumah beberapa menit sebelum kuliah di mulai. Di “pintu doraemon” (jalan pintas dari wilayah rumahku untuk menuju kampus) aku berpapasan langsung denganmu. Ini sungguh luar biasa karena untuk yang pertama kali kamu yang lebih dulu tersenyum padaku.

Yha's Experiences: Di persimpangan jalan

Yha's Experiences: Di persimpangan jalan: Setelah pertemuan malam itu, wajah itu selalu terlintas difikiran. Hati ini selalu merindukan dia. Aku tak pernah merasak...

Di persimpangan jalan


                Setelah pertemuan malam itu, wajah itu selalu terlintas difikiran. Hati ini selalu merindukan dia. Aku tak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Ya, semua ini berawal dari pertemuan yang tak terencana pada malam itu. Awalnya yang biasa saja dan dia bukanlah “Pusat perhatianku” selama ini.
                Dia hanya tetangga yang setiap hari lewat di depan rumahku. Aku tak mengenalnya sebelum ini. Aku hanya tau dia tinggal di ujung  jalan dekat rumahku. Setelah perkenalan itu dia selalu ada di fikiranku. Selalu ingin melihatnya di depan mata. Ini terlalu aneh, Dia bukan siapa- siapa.Tapi hati ini selalu terbayang wajahnya. Padahal belum genap lima hari setelah perkenalan itu. Tapi dia sudah merebut semua perhatianku. Dia membuat aku tercengang kagum saat aku melihatnya dari kejauhan.
                Pertama kali aku tercengang kagum setelah malam itu adalah saat dia pulang kuliah dan lewat di depan mataku. Aku tak percaya dengan apa yang ku rasa saat kedua sudut bibirnya melebar dan tersenyum ke arahku. Aku jadi selalu betah duduk sembari menatap jalan berharap dia akan lewat di depan mataku dan menebarkan senyum manisnya itu.
                Lima hari sudah kami saling menyapa lewat handphone dan jejaring sosial, berbagi dan berceerita bersama.
                Hari ini seperti hari- hari sebelumnya dia kembali menyapaku, mengingatkan aku untuk mengawali hari dengan persiapan yang matang agar hari yang kami lalui berjalan dengan inda dan berharap hari ini kami bisa dipertemukan.
                Entah jodoh entah takdir kami di pertemukan di persimpangan jalan. Aku melihatnya, tapi Dia tak menyapaku. Ya,aku sedikit kecewa karena dari kejauhan aku sudah menyiapkan senyuman termanisku untuk dia.Tapi aku tak ingin bersedih dengan keadaan ini, anggap saja Dia tak melihatku. Aku mengirimkan seuntai pesan singkat padanya dan bertanya mengapa dia tak menyapaku saat dia sudah di depanku. Ya jawabannya tidak terlalu mengecewakan, di jawabnya dengan singkat dan melegakan “Maaf aku tak melihatmu, sebenarnya aku begitu ingin melihat indah wajahmu” aku merasa menjadi orang paling bahagia di Bumi ini karena aku telah menemukan “malaikat pelindungku” yang akan selalu menjagaku, yang akan mengingatkanku saat aku tengah lupa, yang akan membuatku tersenyum saat dia ada di depanku atau di manapun dia berada.
                Sore harinya aku berniat mengunjungi kawanku yang berada tepat di depan rumahnya. Tapi lagi-lagi kami tak bisa saling memberikan senyuman dari kejauhan. Kali ini aku yang tak melihatnya ^_^
                Mungkin Tuhan merencanakan sesuatu yang lebih besar untuk kami. Semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk memulai sebuah ikatan.Amin

Second experiences

                Setelahh malam itu, dia selalu menjadi pembicaraan kami dan yang lebih menghebohkan adalah teman baikku juga menyukainya. Kami sepakat untuk bersaing secara sehat, siapapun yang memenangkan hati Briant kami harus menerima dengan lapang dada.
                Aku mulai berfikir bagaimana cara aku bisa kembali bertemu dengannya? Mungkin sudah menjadi rencana Tuhan malam ini kami didekatkan. Tiba- tiba hp teman sekosku berbunyi dan itu pesan dari Briant. “Kak boleh minjam handuk nggak? Briant di kos tapi kunci di bawa kawan” tapi kami telat membalas sms Briant karena sinyal operator telpon seluler kami sedang gangguan. Namun akhirnya pesan kami juga terkirim “Ambil ke rumah aja briant” “Nggak usah kak udah malam, malu ke kos cewek”  hilang sudah kesempatanku untuk meminjamkan handukku untuk Briant.
                Ternyata ini bukan akhir melainkan sebuah awal aku bisa dekat dengannya karen akeesokan paginya Briant mengirimkan pesan singkat pada kawan sekosku yang berisi “Kak minta no hp kawan sekos kakak”.
                Tak lama hp-ku berdering dan ternyata itu sms dari Briant yang berisi ucapan terima kasih tapi ini salah, seharusnya aku yang berterima kasih padanya karena sudah cukup membantu.
                Smsan berlanjut dari pagi itu sampai sekarang. Dan ini sudah menjadi awal yang baik untuk kami (amin)Ternyata sifatnya bertolak belakang dengan wajahnya yang sok cuek. Haha
                Semoga hanya kenangan indah yang akan mewarnai semua ini

Kesan pertama

                Sudah beberapa hari lampu ruangan tamu kosanku tidak menyala dikarenakan bola lampunya putus. Gelapnya malam kami hanya ditemani setitik cahaya dari sebatang lilin yang menyala. Yang emnjadi fikiran bukanlah masalah bola lampu yan putus itu tapi yang jadi kendala adalah “Bagaimana cara mengganti bola lampu itu?” “Dengan apa kita bisa mengganti bola lampu itu?”
                Beberapa hari telah berlalu, masalah lampu itupun belum terpecahkan. Sore itu salah satu kakak satu kosanku memintaku untuk mengantarnya ke tukang jahit yang tidak jauh dari rumahku. Di tempat tujuan, tepatnya di depan rumah tukang jahit itu kakak satu kosanku memanggil “kumbang.... kumbang” (*anggap saja kumbang). Aku tetap tidak peduli yang aku tau toh di situ rumah salah satu kawan sefakultasku. Tapi keesokan harinya kami kembali mendatangi rumah tukang jahit itu. Kakak sekosku kembali memanggil nama yang sama. Yang sangat mengejutkanku ternyata yang dipanggil Kakak sekosanku bukanlah kawan serumah teman sefakultasku melainkan tetangganya yang menjadi buah bibir semua teman- temanku.
                Ya dia tetanggaku, tetangga teman- temanku, idolaku dan juga idola teman- temanku. Setahun lamanya kami mencari dan mengamati identitas dan gerak- gerik “kumbang” kami hanya tau Dia satu kampus dengan kami namun berbeda fakultas dan fakultasny atepat berada di samping fakultasku. Hanya info itu yang kami dapatkan karena yang kami tau dia orangnya tertutup.
                Aku tercengang saat kakak sekosku memanggil namanya, sejenak aku terdiam dan menyiapkan diri untuk bertanya “Kakak kenal dia?” “Kenal koq, Dia tetangga and adek kelas kakak, keluarga kami juga udah saling kenal” Kaki rasanya sudah tidak menginjak bumi dan hati ini rasanya ingin berteriak keras agar seluruh dunia tahu apa yang selama ini di cari sudah kami temukan. Sepanjang perjalanan sampai beberapa hari setelah hari itu kami selalu membicarakan dia.
                Ide cemerlangpun terlintas dalam fikiran “menyelam sambil minum air” “Masang lampu sekalian kenalan”. Kakak sekosku meminta Dia untuk membantu kami memasang bola lampu rumah. Dia bersedia dan datang kerumah, namun naasnya saat dia punya waktu kami sedang tidak di rumah. Kamipun meminta di adatang keesokan malamnya. Ya, tepatnya malam ini, Dia datang dengan menggunakan Kaos hitam dan boxer bola karena dia akan sekalian bermain futsal.
                Dia memulai memasang lampu dengan bantuan sebuah motor sebagai pijakan karena kami tak mempunyai tangga ataupun kursi. Setelah proses pemasangan lampu suasana rumahpun terasa lebih hidup dan terang. Masya Allah...... Aku bisa menatap indah wajahnya walaupun agak sedikit malu untuk menatap matanya saat dia juga menatapku. Ini kuasamu ya Allah selama ini aku hany abisa memandanginya dari jauh, dari jendela kamarku saat dia lewat di depan rumahku. 
                Suasana belum mencair karena dia masih fokus berbicara dengan kakak sekosku, aku hanya menunduk dan diam sembari sesekali menatap wajahnya. Hanphone kakak sekosku berdering dan ternyata itu dari orang tuanya, dia keluar rumah dan duduk  di depan teras sambil menelpon orang tuanya itu. Dia duduk tepat di hadapanku walaupun dengan jarak yang sangat jauh, dari ujung ke ujung.
                Suasana mulai mencair saat dia mulai bertanya “Jurusan apa?” dan di lanjutkan dengan pertanyaan- pertanyaan lain. Masya Allah betapa terkejutnya aku. Bukannya hanya wajahnya yang tampan bak Nabi Yusuf yang terlahir di akhir zaman. Tapi akhlaknya begitu mulya, di usia yang masih sangat belia dia sudah memikirkan pertanggung jawaban untuk anak istrinya besok. Dia sudah memikirkan rencana kedepannya untuk membantu dua orang adiknya dan mengurus orang tuanya. Anggapanku selama ini salah, aku mengira dia orang yan sombong, cuek, dll. Tapi semuanya bertolak belakang.
                Andai dia yang menjadi imamku besok, tak bisa ku bayangkan betapa bahagianya aku menjalani hidup mencari ridho-Mu ya Allah.
                Semoga esok aku akan mendapatkan imam yang baik yang bisa menuntunku menuju surga-Mu ya Allah. Amin

It is about love

Cinta menumbuhkan kebahagiaan
dalam kebersamaan,
kerinduan saat terpisah,
kegalauan dalam ketidak-jelasan,
kepedihan karena ketidak-setiaan,
kenangan pada masa lalu,
dan harapan pada masa depan

Cinta mengenalkan kehidupan
kepada yang muda,
dan kebijakan kepada yang tua.

Cinta adalah keindahan Illahi,
yang menjadi pemulia jiwa
yang memelihara keindahan pekerti,
dan penista bagi yang hanya memanjakan nafsu.

Illahi, Sang Maha Cinta,

Manjakanlah aku dalam kebenaran dan cinta-Mu.

Aamiin