Powered By Blogger

Newer



            Teman- teman baru (lebih tepatnya adik yang lugu- lucu), guru baru, Jadwal kursus untuk IN 4 ini pun berbeda dari term biasanya (selasa kamis), karena hanya tersedia satu kelas saja yaitu senin- rabu jam 19.00 WIB – 21.00 WIB. pokoknya suasana baru deh!.
Ya, teman- teman lama di IN 3 dulu udah lulus semua ada beberapa orang yang udah di HI 1 dan aku harus pospond satu term (3 bulan) kursusku karena libur panjaaaaaaaang (yah hampir 2 bulan aku libur).
Hari pertama datang ke LIA sebagai murid IN 4 yang menjadi masalah pertama adalah will I get friend? Can they adjust to me?” Aku melanjutkan langkahku menuju meja Mbak Melda untuk mengambil buku teks dan melihat di mana kelas baruku! 
Aku mulai menaiki tangga dan terlintas pertanyaan dibenakku Who will be my friend? Can they adjust to me?”  And i have stopped in front of  “206” room, Yah, its my new class. Pintu ruangan masih tertutup dengan rapat padahal jam sudah menunjukkan jam 19.00 WIB “Apa mungkin aku salah ruangan?” Aku mendekatkan diri ke pintu dan mengintip isi ruangan lewat celah kaca berukuran 10x20 cm, terlihat seorang gadis kecil (yang sebenarnya ukuran badannya lebih besar dari aku) dengan kemeja kotak- kotak berwarna abu- abu, mengenakkan Jeans dan memakai sepatu berwarna Ungu sedang membaca sebuah buku. Perlahan aku membuka pintu dan gadis itu melontarkan senyum.
Aku duduk di belakang gadis kecil itu, kursi-kursi masih berjejer rapi ya hanya kami berdua yang ada dikelas yang sunyi ini. Saya memberanikan diri bertanya “Mbak dari IN 3 ya?” “Bukan, baru ikut placement test dan langsung lulus di sini” suasana sedikit mencair saat kami berdua berbincang- bincang  dia murid kelas X di salah satu SMA Kota Jambi dan baru beberapa bulan pindah dari Lombok ke jambi.
Satu- persatu teman- teman baru datang, Les dimulai dengan “Perkenalan” Yah, “I am the one” Cuma saya yang Mahasiswa --__--“ . Al hasil berkat kesupelan saya, suasanapun bisa nyambung dan berkesan.
Hari- hari pun kami lalui bersama dan tidak terasa malam ini adalah kelas terakhir untuk term ini. Malam ini akan menentukan Siapa- siapa saja yang bisa naik ke level berikutnya.
Sudah ada sejuta pengalaman berkesan selama Term ini, dan pengalaman terakhir yang agak menjengkelkan adalah Ujian Promotion test With Mr.X(I don’t know his name) yang waaaawwwww ngebutnya padahal masih banyak waktu yang tersisa, dan besok malamnya kami diminta datang lagi ke kelas hanya untuk Written test. Kenapa nggak sekalian aja sih Mr?
Dan yang lebih gondes waktu interview, Saya dan Yuni dapat rolling pertama untuk interview karena kami d=tergolong “Senior” -__-“ Cuek bebek aja sih toh Cuma interview, tapi interview kali ini harus banyak- banyak sabar karena saya di bully si Mr dengan kata- kata yang agak kurang enak di dengar heiii turn off your phone, you only have 15 minutes here, make the best of it. How important is your mobile phone? whether it is from your husband?” Kepo banget kan? Padahal megang hape juga baca bm dari adik2 yang ngasih semangat.
Of course its so sad, karena saya baru akrab dengan adik- adik ini. Semua harus berakhir karena saya lagi- lagi harus pospond karena sebentar lagi Liburan semester.
I will miss you all.
1.      Divia semoga Sukses sekolahnya dan bisa lanjut ke Unja jurusan Akuntansi
2.      Aditya Ramadhan semoga sukses menanti  si Dia yang di Aussie dan bisa mengambil International Relationship di Universitas yg diinginkan
3.      Dina semoga lulus UN dengan nilai terbaik dan bisa masuk HI UI
4.      Dan untuk semuanya rajin- rajin belajar and still keep in touch in socmed.
I will Miss you so Much “My Young Sisters and Brother”

Sesi Pemotretan (Imigrasi Part II)



Adzan shubuh berkumandang  merdu yang sudah menjadi alarm pertanda hari saya sudah dimulai. Ya, Wednesday, January 2nd 2013 hari kedua di tahun ini. Menatap reminders di kalender yang begitu banyak dan saya diharuskan berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang sama. Yang mana yang harus jadi prioritas? Dua- duanya sama-sama penting. Harus berada di kampus tepat jam 8.00 WIB dan juga harus berada di kantor Imigrasi dari jam 8.00-11.00 WIB.
            Oke, prioritas pertama Kantor imigrasi, semua urusan di imigrasi harus selesai sebelum jam 9 “Berharap masih bisa kuliah 30 menit terakhir”. Karena perjalanan kampus- kantor imigrasi butuh waktu sekitar 20 menit.
            Jam 7.50 saya sampai di Imigrasi petugas- petugas imigrasi sudah menempati meja masing- masing, terlihat juga beberapa orang yang sudah menunggu di ruang tunggu tersebut. Saya berniat mengambil no antrian dengan lembut petugas imigrasi berkata “Maaf Mbak, 10 menit lagi kami membuka pelayanan , Mohon tunggu” saya menunggu dengan gelisah karena hanya tubuh saya yang hampir beku kedinginan disini, fikiran saya ada pada Physical Chemistry, mata kuliah yang harus saya ikuti pada saat itu. Saya tidak sendiri, ada Diah teman seperjuangan yang mengambil jurusan Biologi yang juga ada mata kuliah jam 8 ini. Kami bercerita- cerita tentang pengalaman mengantri saat menyeleksi bahan (Imigrasi Part I).
Jam 8.00 WIB sherine apel berbunyi yang merupakan panggilan agar petugas mengikuti apel. Jam 8.10 WIB petugas mulai membuka pelayanan. Unfortunetly kami keduluan oleh Ibu- Ibu tadi, no problem kami masih mendapat nomor antrian 4,5,6,7,8,9, Ya, Diah membawa lima bahan hari itu. No antrian 4 itu diberikan kepada saya karena Diah tidak ingin menunggu di imigrasi, Dia harus mengikuti jam pertama kuliah dan kembali ke Imigrasi jam 10.00 WIB. Nah how about me? Jadwal saya yang full tidak memungkinkan saya melakukan itu. Saya hanya berharap urusan imigrasi ini cepat  selesai dan saya masih bisa mengikuti kuliah di 30 menit terakhir.
Di ruang tunggu, Kejadian- kejadian yang tidak diinginkan kembali terjadi kali ini bukan lagi urusan dengan ‘biro jasa yang maksa mau bantu ngurus  and kita harus bayar lebih’ tapi ini lebih aneh --___--“ . Kami dihampiri Mbak-Mbak yang wajah nggak asing. Ya, setelah perkenalan hangat yang mencairkan dinginnya suasana kantor imigrasi pagi itu. Ternyata Mbak- Mbak itu adalah mahasiswa tingkat akhir di Kampus saya (Pantesan wajahnya nggak asing, senior Sih) J . Ada pertanyaan yang menurut saya terlalu “Asal- asalan” dari Senior tersebut. Setelah perkenalan kami memulaisebuah topic pembicaraan baru “Udah nyampe mana urusan pasportnya Dek?” “Tinggal foto Kak” “O.. itu bahan yang asli di bawa lagi ya? Kak lupa bawanya” “Iya kak, kemaren d suruh bawa” “Ngomong- ngomong Adek ngurus pasport mau kemana?” “Hehe Keluar Kak Jdengan santai kami menjawab begitu “Kemana?” “Singapur- Malaysia” “Oooo..... Nyari kerja ya Dek? Kerja di mana rencananya?” tanya Senior tersebut dengan tampang tak berdosa, kami kaget “Masya Allah si Senior ini, apalah arti tiap hari nulis laporan, kuliah 7 hari seminggu bahkan malam minggu  dan hari munggu pun kami harus berada dalam ruangan kelas untuk kuliah! Demi apa coba bayar SPP mahal2” Kata saya dalam hati. Udah ah cuek bebek aja and stay cool, kejadian kayak gini udah biasa terjadi, malah minggu kemaren lebih parah karena saya di bilang “TKW” dan ada juga beberapa teman yang dibilang “Biro Jasa” karena udah ngeborong map and formulir sebanyak 60 lembar.
Jam 9.00 WIB Ibu- Ibu tadi yang antrian 1, 2 dan 3 dipanggil untuk sesi pemotretan dan saya tinggal di depan ruang foto bersama model- model lain (Yang bikin pasport juga). Gelisah iya, udah jam 9 tapi saya juga belum dapat giliran foto. Mau kuliah jam berapa saya? Petugas imigrasi keluar dan memanggil dua peserta istimewa, gimana nggak istimewa? Saya aja yang nomor antrian 4 belum dipanggil masa bapak- bapak yang baru datang udah langsung pemotretan aja! How popular they are? Sampe- sampe seleb yang satu ini dilupain. Saya langsung bertanya kepada petugas “Pak saya datang sama- Ibu- Ibu tadi saya nomor antrian 4 belum dipanggil! Masa bapak- Bapak itu langsung dipanggil?” Protes saya karena nggak terima diperlakukan demikian. “Bapak- Bapak tadi udah lama ngurus bahannya Dek!” “Saya kurang lama apa sih pak? Tahun kemaren saya ngurus bahannya, udah setahun! Saya bela- belain datyang kesini pagi- pagi supaya urusan saya di sini cepat selesai. Saya mau ada kuliah dari jam 8 tadi pagi” “Iya Dek yang mana bahannya?” Tanya petugas dan saya diminta langsung masuk ke ruang pemotretan.
Selang beberapa menit duduk saya di panggil abang- abang fotographer (Petugas Imigrasi Juga) untuk pemotretan. Si fotographer mengatur posisi saya “1...2...3... jpreeeet” (nggak gitu juga sih) “Dek wajah Adek nggak bisa kebaca di sensor kamera” “Emang kenapa dengan wajah saya? Saya manusia kok masa muka saya nggak kebaca sensor kamera” Tanya saya dalam hati. “Dek Jilbabnya di naikin dikit biar wajahnya bisa dibaca sensor kamera” Okelah bilang dari tadi kek bang --__--“ Setelah sesi pemotretan dilanjutkan sesi interview, karena petugas udah tau saya dari Unja saya nggak ditanya banyak Cuma ditanya identitas aja and diminta datang lagi hari Selasa untuk pengambilan pasport.
Jam 9.45 WIB Sesi pemotretan dan interview selesai. Saya bergegas karena hanya punya waktu 15 menit untuk sampai di kampus dan berharap “Masih bisa ikut uliah walau beberapa menit”. Jam 10.00 WIB saya sampai diparkiran kampus dan bergegas lari ke ruang kelas jeng.....jeng....jeng..... “Dosen baru keluar beberapa detik yang lalu” T___T emang nggak jodoh sama tuh Dosen. Betul kata orang Jika 2 hal yang prioritasnya sama- sama penting maka harus ada yang dikorbankan.



IMIGRASI Part I



Kamis 27 Desember 2012 nggak ada yang spesial sih ditanggal ini, sama aja seperti tanggal- tanggal sebelumnya.
            Kring..... kring... kring.... hape saya berdering (nggak sejadul itu sih nada hape saya) “Papa memanggil” saya bergegas mengangkat telpon itu “Kak kemaren udah papa kirim paketnya di loket, jemput hari ini” kata papa. “Siap bos” jawab saya.
            It mean hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan karena saya harus kuliah setengah hari dari jam 8.00-11.30 WIB, ke loket untuk mengambil kiriman papa dan harus mengantri di kantor imigrasi yang kata temen yang udah ngantri duluan “Bosen, kesel, dan banyak hal-hal yang wawwww”.
            Okay jam 11.30 WIB dengan suhu jambi yang panas membahana sekitar 32°C saya dan teman saya keluar dari kelas langsung menuju parkiran. Kami memulai perjalanan ke loket untuk mengambil kiriman Papa. Sepanjang perjalanan Teman saya menceritakan pengalamannya selama dikantor imigrasi hingga tak terasa kami sudah sampai di depan loket untuk mengambil kiriman.
            “Permisi pak saya mau ngambil kiriman Papa saya” “Atas nama siapa dan siapa pengirimnya?” saya menyebutkan dengan detail. Amplop coklat yang saya terima langsung saya buka untuk mengecek apakah kirimannya sesuai dengan yang saya minta? Ya, selembar kartu keluarga berwarna biru yang berlatarkan ideologi bangsa ini (Pancasila).
            Setelah membuka isi amplop tersebut kami melanjutkan perjalanan ke fotocopyan untuk mengcopy KK tersebut. “Pak fotocopy satu rangkap” ucap saya. “Timbal balik atau gimana Dek?” belum sempat saya jawab bapak fotocopyan langsung menyambung pertanyaan “Untuk pasport ya Dek? Berarti  nggak timbal balik” saya hanya mengangguk. Menunggu fotocopyan tersebut ada dua orang bapak- bapak yang juga mengcopy bahan- bahan pasport dan melontarkan pertanyaan “Dari mana Dek?” belum sempat saya menjawab bapak itu langsung bilang “Dari Unja ya Dek?” lagi- lagi saya hanya mengangguk. Bukannya saya sombong, tapi ingat pesan Mama “Jangan terlalu akrab sama orang yang baru dikenal”. Enggak menutup kemungkinankan orang tersebut mempunyai niat jahat ke saya? Tapi juga nggak menutup kemungkinan orang tersebut juga orang baik-baik? Ya saya hanya positif thinking aja sama semua orang dan harus tetap hati- hati juga dong ya? J

            Oke Fotocopyan KK nya siap its time untuk menyusun bahan pembuatan pasport. KTP asli, fotocopy KTP, Akte kelahiran, fotocopy akte kelahiran, Kartu keluarga, fotocopy Kartu keluarga, formulir pembuatan pasport, persetujuan orang tua dan rekomendasi dari dekan FKIP. Semua udah disusun rapi tapi saya mengecek ulang fotocopyan Kartu keluarga “Belum ada tanda tangan kepala keluarga” what should I do? Nggak mungkinkan Kknya harus menempuh jarak 419 km Jambi- kerinci yang menghabiskan waktu semalaman? Kalo pun itu mungkin maka hanya akan memperlambat proses pembuatan pasportnya ada. Oke inisiatif pertama dan terakhir “Harus menandatangani KK tersebut” takut sih ntar dijerat pasal Pasal 263 dan pasal 266 KUHPidana yang diancam enam tahun penjara. Sesuatu banget “Nggak impas ama kesalahan yang dibuat” Setelah dipikir- pikir lagi “Nggak mungkin Papa nuntut anaknya sendiri atas pemalsuan tanda tangan tersebut” tanpa fikir panjang saya langsung mencoret KK itu  dengan tanda tangan Papa (Walaupun nggak mirip- mirip amat) J.
            Karena tidak ingin bahan saya salah untuk yang kedua kalinya, saya mengecek hal- hal kecil yang menurut saya tidak terlalu berpengaruh, seperti ejaan nama, singkatan alamat dan NIK. Saya sangat terkejut saat melihat NIK di KK dan NIK di KTP saya juga berbeda. Akankah bahan saya ditolak lagi oleh petugas Imigrasi? Semoga aja TIDAK.
            Dengan sikap pesimis kami melanjutkan perjalanan ke kantor Imigrasi. “Apakah masalah kecil ini akan dipermasalahkan?” Semoga tidak.
Jam 12.00 WIB saya sampai ke kantor Imigrasi dan saat itu petugas- petugas yang ada di sana masih istirahat makan siang. Kami diharuskan menunggu. Setelah petugasnya datang saya langsung ke loket pelayanan Pasport karena saya sudah punya no antrian 59 dan dengan PD saya berkata “Mbak ini bahan dari Unja yang salah kemaren” “Maaf mbak No antriannya hanya berlaku satu hari, silakan mengambil no antrian yang baru” dengan perasaan yang agak kecewa saya mengambil no antrian yang baru “No antrian 80” Bahan tersebut langsung saya serahkan kembali ke loket pembayaran pasport dan saya diminta menunggu untuk pemeriksaan bahan tersebut.
            Dengan suasana hiruk pikuk kantor imigrasi tersebut saya sedikit tidak nyaman karena ada beberapa orang yang melontarkan pertanyaan- pertanyaan yang menurut saya terlalu KEPO. “Mbak mau kemana?bla .... bla.....” “Mbak dari mana?......bla....blaaa” “Mbak ngurus pasport ya? Mau dibantu?........” dan masih banyak pertanyaan pertanyaan lain yang membuat mood saya hilang “Mau jadi TKW ya Mbak?” --___--“ .
            Kami segera menjauhi orang- orang tersebut dan bertemu dengan teman- teman satu kampus yang sedang mengantri untuk pemotretan (Model kali ya). Saya menceritakan mood saya yang hilang karena pertanyaan- pertanyaan tersebut. Teman saya menjawab “Udah biasa gitu, itu calo yang nyari mangsa”. Cuek bebek aja kalo gitu.
            Jam 14.00WIB loket imigrasi tutup dan tidak menerima permohonan pasport lagi. Tapi bahan saya yang diperiksa itu juga belum ada kabarnya setelah lebih dari 2 jam menunggu. Jujur saya bosan hanya duduk dan menunggu sesuatu yang belum pasti itu. Sempat beberapa kali saya bertanya kepada petugas “Mbak udah selesai pemeriksaan bahan saya?” Lagi- lagi Mbak- mbak imigrasi hanya menjawab “Belum dek, masih banyak bahan yang diperiksa” say kembali duduk dan bercerita dengan salah seorang mahasiswa yang juga menunggu “Mbak no bahan mbak berapa?” “68” “Udah dipanggil?” “Belum juga padahal dari jam 10 pagi tadi ngantri di sini” saya  terkejut karena saya baru datang 2 jam setelah mbak yang tadi dan no bahan saya 22 angka setelah mbak itu! Mau selesai jam berapa?
            Semakin sore tingkat kebosanan saya semakin bertambah. Hampir jam 4.30 baru mbak yang tadi dipanggil. Seakan mendapat angin segar, beberapa nomor lagi nomor bahan saya. Ya, tebakan saya benar. Nama saya dipanggil sempat cemas, takut bahan saya nggak diterima (lagi) alhasil bahan saya di terima dan  mendapat jadwal pemotretan tahun depan on Wednesday, Jan 2nd 2012. Semoga semuanya lancar dan GOOD LUCK untuk perjalanan ISSTE 2010 J

Nostalgia With Yani

            Hari ini tanggal 31 Juli 2012 bertepatan dengan tanggal 10 Ramadhan 1433 Hijriah. Aku sangat bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci yang penuh berkah ini.
            Seperti tahun- tahun sebelumnya, aku menyempatkan diri ngabuburit di pasar bedug (Masyarakat di sini lebih mengenal “Pasar Mambo”). Kami (Aku dan Yani temanku) sudah merencanakan ngabuburit ini sejak kemaren. Kami berjanji pergi ke pasar lebih cepat yaitu jam 15.30 WIB karena kami harus menempuh perjalanan yang jauh menuju pasar.
            Jam 15.25 WIB aku berangkat dari rumah ke rumah Yani dengan harapan “Yani sudah siap”. Jam 15.30 WIB aku tepat berada di depan rumah Yani, dengan sangat terkejut aku memandangi Yani yang belum sipa sama sekali. Dengan sabar aku menunggu yani mempersiapkan dirinya, aku menghabiskan waktu dengan BBMan, Twitteran, Fban, bosan melakukan itu semua aku pun memutuskan untuk tidur dikamar Yani. Hampir satu jam aku menunggu yani akhirnya dia siap.
            Kami melanjutkian perjalanan ke pasar yang berlokasi di Sungai penuh. Sebenarnya jarak antara rumah kami dan pasar tidak terlalu jauh. Karena jalan yang menghubungkan rumah kami dan Sungai Penuh masih dalam proses perbaikan (Sedang pembuatan jalan layang) kami harus melewati jalur lain. Saat pergi kami memutuskan lewat Tanah kampung- Tanjung Bunga- Tanjung Rawang- Rawang – Sungai penuh.
            Sungguh perjalanan yang sangat jauh tapi menyenangkan. Sepanjang jalan kami bernostalgia kejadian- kejadian yang pernah kami alami, pertama kami bertemu bebek di desa Tanjung Bunga. Bebek ini mengingatkan kami karena dulu Kami pernah hampir jatuh karena menabrak bebek (Untung yang punya bebek nggak tau, jadi kami nggak perlu ganti rugi dong ya). Di sepanjang jalan di Tanjung rawang yang dihiasi pemandangan hijau persawahan dan aliran sungai kami bertemu beberapa ekor sapi. Lagi- lagi ini mengingatkan kami kalau Yani juga pernah jatuh nabrak sapi. Kalau dihitung- hitung yani sudah mengalami beberapa accident  dengan hampir semua binatang, mulai dari bebek, kambing, sapi bahkan katak.
            Tanpa terasa kami sudah menempuh perjalanan panjang, sesampai di pasar kami memarkir motor kami, ujuan pertama kami adalah toko aksesoris disini kami melihat-lihat aksesoris di toko tersebut, ternyata ada perubahan yang luar biasa dari toko ini “Uni yang jaga tokonya makin langsing, Tokonya juga udah tambah besar” alhamdulillah berarti ada kemajuan. Selanjutnya kami menelusuri satu persatu counter yang ada di jalan sisingamangaraja untuk hunting kartu XL yang katanya ada promo paket 100 ribu/ 3 bulan. Lumayan hemat berapa ratus ribu :D. Kami menelusuri counter demi counter tapi takmembuahkan hasil, kami tak mendapatkan apa yang kami cari. Kami hampir menyerah secara “Jalan kaki dalam suasana puasa itu capek banget guys” alhasil di counter ke 5 kami bisa mendapatkan kartu yang kami cari. Kami menghabiskan waktu lama untuk berbincang- bincang dengan penjaga counter untuk meyakinkan kami tidak salah beli. Hehe alhamdulillah kartu yang kami cari ada. Dengan harga 110 ribu. *Bangkrut mak, selama libur aja gak dapat duit jajan.
            Lanjut ke tempat berikutnya, “Pasar Bedug/ Pasar mambo” incaran pertama kami adalah Es campur yang asli bikin haus banget kalo liat orang bikin (sabar belum buka puasa) setelah puas berkeliling di pasar mambo, kami memutuskan ketempat berikut. Kami berjalan menuju parkiran dan melanjutkan perjalanan ke Salah satu tempat makan favorit “Sate Madura”. Lama menunggu pesanan kami, dengan modal “gak punya malu” kami narsis- narsisan foto- foto di sana, karena asap sate yang mengepul tebal kami pun tak menghiraukannya, anggap saja itu suatu efek baru yang menambah kecantikan kami. masyaAllah kami memang orang yang aduh susah jelasinnya. Setelah pesanan siap kami melanjutkan ketempat berikut untuk membeli pesanan papa.
            Di sebrang jalan sate madura terdapat semuah rumah makan “Rumah Makan Ikan Semah” namanya terletak disebelah mesjid Baiturrahim sungai penuh, aku harus hunting gulai lambung, dengan wajah kecewa aku gak dapat pesanan papa itu. Beralih ke tempat berikut “ampera marantama” dengan hasil yang sama ampera tersebut tutup. Kami beralih ke tempat bakso Sidowaras. Membeli dua bungkus bakso dan bergegas pulang. Karena setengah jam lagi adzan magrib. Sepanjang perjalanan pulang kami terus memelototi jam karen atakut pulang terlambat.
            Bukan takut buka puasa di jalan,tapi kasian orang rumah yang nunggu, semua takjil dan lauk pauk untuk berbuka ada dengan kami. Kami memacu kendaraan secepat mungkin. Jam 18. 23 saya tepat berada di depan pintu rumah yani, dan bergegas pulang berharap saya sampai rumah tepat waktu

Sahabat Ilmu Jambi


SAHABAT ILMU JAMBI
            Awal mengenal SIJ dari salah seorang teman baik (Wika) saat membuka foto- foto dilaptopnya. Pertanyaan pertama yang muncul “Foto-foto siapa ini Wi? Dalam rangka apa ini?” Wika menjelaskan panjang lebar tentang SIJ. Sebuah komunitas yang bergerak dibidang sosial khususnya pendidikan untuk meningkatkan minat baca dan menulis untuk anak- anak yang kurang beruntung.
            Saya sangat tertarik dengan komunitas ini karena sudah sejak lama saya bercita- cita ingin mengajar dan berbagi di panti asuhan. Cita- cita ini muncul sejak kunjungan pertama saya ke panti asuhan Garuda bersama dengan teman- teman sekelas saya. Yang membuat saya sangat ingin mengabdi di panti asuhan adalah permintaan dari pemilik panti asuhan garuda “saya harap ini bukan kunjungan pertama dan terakhir adik- adik ke panti asuhan ini, mereka membutuhkan kalian. Kalian bisa mengajarkan ilmu yang kalian miliki, sekaligus beramal, mereka membutuhkan kalian”. Sejak kunjungan saya ke panti asuhan garuda itu, keinginan saya untuk mengajar di panti semakin keras, namun belum bisa terealisasi karena selalu ada halangan setiap kali ingin kesana (Allah belum mengizinkan).
            Setelah tau SIJ saya berniat untuk mengikuti komunitas ini,namun saat saya ingin masuk komunitas ini. Saya meminta Wika menanyakan pada kak bela namun  kak Bela bilang yang sedang dibutuhkan adalah relawan cowok yang bisa berkomitmen, relawan cewek dikhawatirkan kurang bisa berkomitmen. Jujur saya sedikit kecewa dengan jawaban itu. Tapi saya berharap suatu saat saya akan menjadi bagian dari SIJ ini.
            Beberapa bulan setelah itu saya mendapat info dari Wika kalau SIJ menerima pendaftaran relawan baru, saya mengecek TL twitter @SahabatilmuJBI dan sangat berharap saya bisa menjadi bagian dari komunitas ini. Malam itu saya bersama Wika berbincang- bincang tentang SIJ Subhanallah sungguh sangat mulia komitmen komunitas ini. Semoga dengan izin Allah SWT komunitas ini menjadi batu loncatan bagi anak muda Jambi untuk menebar ilmu dan membuka cakrawala. Setelah membaca persyaratan menjadi relawan SIJ saya mulai menuliskan isi hati yang menjadi motivasi saya untuk menjadi relawan SIJ di MS word. Setelah mengirimkan CV ke email SIJ, keesokan harinya saya mendapat sms untuk berkumpul di sekre SIJ.
            Karena saya tidak tau dimana sekre SIJ, saya pergi bersama Wika dan Ulli. Sesampai di sekre SIJ tentu saja saya sangat senang karena sudah bertemu dengan teman- teman baru, keluarga baru yang merupakan pemuda- pemuda yang masih peduli dengan sesama, memiliki tekad yang sama “Mencerdaskan kehidupan Bangsa”.
 Sesampai di sekre saya membantu Ana menggunting karton untuk dijadikan label data untuk buku- buku SIJ. Tak lama setelah itu, calon relawan baru diminta berkumpul dan dibagi menjadi dua kelompok untuk di wawancarai. Tentu saja saya deg- degan “Apa yang harus saya jawab nanti?”. Yang ada di benak saya adalah wawancara yang menegangkan seperti wawancara mencari kerja atau seleksi beasiswa (Huuuuuffft). Saat itu saya, Bang Bujang, Novia, Karla dan Putri diwawancarai oleh Rara dan Fani. Alhasil pertanyaan- pertanyaan yang ditanyakan oleh Rara dan Fani tidak sesulit yang saya bayangkan. Semua jawaban dari pertanyaan mereka lahir dari ketulusan dan keikhlasan hati saya untuk mengabdi pada bangsa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Wawancara kami ini menjadi diskusi yang hangat dan akrab walaupun ini adalah pertama kali saya bertemu dengan teman- teman baru ini karena sekarang “Kita” terangkul dalam satu keluarga “Sahabat IlmuJambi”.
Saat sedang asyik berbincang-bincang dengan teman- teman tadi, hujanpun turun. Kami diajak masuk kerumah bang Maul itu, di dalam rumah saya bertemu dengan keluarga besar SIJ di sana kami berkenalan satu sama lain dan membahas kegiatan- kegiatan SIJ. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 5 well saatnya teman- teman pulang kerumah masing- masing. Dan kami akan bertemu keesokan harinya di Panti asuhan masing- masing.
Sabtu pun datang saya mendapat amanah di Panti asuhan Madinatul Aitam karena di sini mereka kekurangan kakak asuh yang suka dengan anak kecil. Hari pertama di panti asuhan saya tak henti- hentinya mengucapkan rasa syukur karena impian saya selama ini telah terealisasi dan Allah juga mempertemukan saya dengan sahabat- sahabat yang peduli ini. Terima kasih ya Allah. Di Madinatul Aitam saya mendapat adik asuh yang berumur 5 tahun yang sedang lucu- lucunya. Adik asuh ini bernama “Udin” saya nggak tau apa nama lengkap si Udin ini “Udin mendunia” kali ya.
Setiap kunjungan saya ke Madinatul ini keakraban dengan adik- adik semakin bertambah. Tidak mudah mengatur adik- adik yang memiliki watak yang berbeda- beda ini. Mulai dari Si kecil yang lucu- lucu, si Tampang tak bersalah sampai si Degil. Alhamdulillah semuanya bisa diatasi berkat kerja sama teman- teman yang lain.
Keceriaan Adik adik asuh saat berkumpul menjadi kepuasan tersendiri untuk saya. Seperti saat pendampingan di Ancol, untuk pertama kali saya melihat si tampang tak bersalah Yuda dan Joko tertawa lepas menikmati senja sore ditemani sebuah jagung bakar. Sebenarnya saya sudah mengabadikan kenangan ini saat kami duduk bertiga di pendopo Joko, saya dan Yuda memegang jagung Bakar. Sayangnya foto ini nggak sengaja terhapus dari hp. Tapi senyum kebahagiaan adik- adik ini tetap abadi di hati saya. Semoga semua anak- anak yang kurang beruntung mendapat perhatian yang sama seperti adik- adik asuh ini.
Written by : VEBRIA ARDINA